Denganperannya yang sangat besar dalam kehidupan kita, maka guru wajib itu dihormati oleh kita. Dalam Islam pun, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam bersikap selaku murid terhadap gurunya. Di antaranya adalah: Menghormati dan menghargainya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW.
Jumat Desember 25, 2020. Manaqib jawahirul ma’ani Kitab Manaqib JAWAHIRUL MA’ANI adalah manaqib (riwayat hidup yang menceritakan tentang Sulthonul Auliya’ Syech Abdul Qodir Al Jilani (ada yang menyebut Al Jaelani). Mulai dari Kelahirannya, perjalanan beliau menuntut ilmu, karomah-karomahnya sampai pada wafatnya.
Dalamseni music Ibn surayj memilki banyak guru diantaranya adalah Sa’id ibn Misjah w. 714) musisi pertama mekah yang terbesar pada masa dinasti umayyah. 52 Ahmad Tafsir, Cakrawala Pemikiran Pendidikan Islam (Bandung, Mimbar Pustaka, 2004), hlm .259 48 JURNAL TARBIYA Volume: 1 No: 1 2015 (47-76) 63 PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN PENDIDIKAN
Tujuandari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah model pembelajaran kooperatif tipe SQ3R berpengaruh terhadap hasil belajar fisika siswa pada kelas VII MTs Ihya Ulumuddin. Dalam penelitian ini, terdapat dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat, yang dimana variabel bebasnya adalah model pembelajaran kooperatif tipe SQ3R
Dalamhal tajdid ini, Mbah Maimun berpendapat bahwa Islam pada awal lahirnya sebagai abad pertama (1) dari hijriyyah itu sendiri maka para sahabat sudah menghafal al-Qur'an dan membawa hadis-hadis Nabi. Maka dari sini penulis memahami bahwa golongan sahabatlah sebagai mujaddid pada abad pertama ini. Selanjutnya ketika Islam mula tersebar dan terjadi
Sebenarnyabanyak kitab-kitab lain berkenaan dengan adab ilmu seperti kitab An-Nawawi rahimahullah, Adabul 'alim wal muta'allim, dalam Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali juga pembahasan pertamanya tentang adab ilmu, dll. Kitab-kitab tersebut perlu kita baca. Hanya untuk panduan pembelajaran, kitab ini dirasa lebih lengkap mencakup berbagai babnya.
AdapunAdab-adab dalam membaca Al-Qur’an adalah sebagai berikut : 1. Memilih waktu yang cocok untuk membaca Al-Quran, dan seperti yang Allah telah tampakkan kepada para hamba-Nya, sehingga turun di dalamnya Limpahan Rahmat, adapun waktu yang cocok adalah sepertiga terakhir di waktu malam hari yaitu waktu sahur, kemudian yang lainnya pada
Pondokpesantren Subulussalam secara Geografis terletak di Jawa Timur kabupaten Banyuwangi tepatnya di desa Tegalsari + 7 Km, dari kota Genteng dan + 7 Km dari kota Jajag.. Pondok pesantren Subulussalam didirikan oleh KH. Hambali Mu’thy sekitar tahun 1986/1987, beliau adalah sosok tokoh berasal dari pulau jawa paling ujung timur selatan di
ImamAl-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin membagi Tauhid dalam 4 tingkatan, yaitu: Tingkatan pertama adalah mengakui keesaan Tuhan dengan lisan tapi tidak dengan hati. Disebut dengan Tauhid Munafiq. Tingkatan Kedua, meyakini keesaan Tuhan dengan hati seperti halnya mayoritas orang awam. Disebut dengan Tauhid Awam.
KARAKTERPESERTA DIDIK DALAM KITAB THALAB AL-’ILM. A. Pengertian Adab PesertaDidikdalamMenuntutIlmu. Kata adabberasal dari bahasa Arab yaitu aduba, ya’dabu, adaban, yang mempunyai arti bersopan santun, beradab.[1]Kataadab ini tidak sering digunakan dalamkehidupan sehari-hari dan yang sering digunakan adalah kata akhlak.
3g33l. Terbit 25 October 2021 Oleh Kategori Ihya 'Ulumuddin Tata krama atau adab yang semestinya dijalankan oleh para guru dan murid adalah sebagai berikut KEWAJIBAN SEORANG MURID Pertama Menjaga diri dari kebiasaan rendah diri dan perilaku tercela. Rasulullah SAW bersabda, “Agama ditegakkan atas kebersihan. Maka kebersihan lahir dan kesucia batin dibutuhkan”. Usaha murid untuk memperoleh ilmu dan pengetahuan adalah amalan hati. Sholat dan ibadah fardhu ain lainnya dikerjakan oleh tubuh, sedangkan untuk memperoleh ilmu dari seorang guru tidak dapat dicapai tanpa menyingkirkan kebiasaan buruk dan sifat-sifat jahat. Ibnu Mas’ud RA pernah berkata, “Ilmu tidak diraih dengan banyak belajar. Ia adalah Cahaya nur yang dipancarkan ke dalam dada”. Kedua Mengurangi keterpautannya pada urusan duniawi semata dan berusaha mencari tempat belajar yang jauh dari kerabat dan kampung halaman karena ilmu tak mungkin diperoleh di lingkungan yang demikian. Ketiga Bersikap tawadhu’ atau tidak meninggikan diri dihadapan gurunya. Ilmu tidak akan dapat diraih kecuali dengan kesederhanaan dan kerendahan hati. Apa saja yang dianjurkan oleh guru, murid harus mengikutinya dan mengesampingkan pendapat pribadinya. Murid hanya boleh bertanya perihal perkara yang diijinkan oleh gurunya saja. Keempat Ia tidak terlalu memberikan perhatian kepada perbedaan antara ilmu duniawi dan ilmu ukhrawi, karena itu bisa menggerus hatinya hingga kehilangan semangat untuk mempelajari ilmu. Ia pertama-tama harus mengindahkan ucapan gurunya dan tidak boleh mempermasalahkan berbagai mazhab. Kelima Tidak boleh meninggalkan satu cabang ilmupun. Ia harus bersemangat untuk mempelajari berbagai cabang ilmu karena setiap cabang ilmu sesungguhnya saling membantu dan berhubungan erat. Keenam Tidak boleh mempelajari atau mendalami beberapa atau semua cabang ilmu dalam satu waktu. Ia harus mempelajari dahulu ilmu yang terpenting bagi kehidupannya. Sedikit ilmu jika diperoleh dengan semangat dan gairah, Insya Allah akan menyempurnakan hati kita untuk mempelajari ilmu-ilmu yang lainnya. Ilmu yang tertinggi dan termulia adalah ilmu mengenal Allah ma’ rifatullah. Ketujuh Tidak boleh mendalami cabang ilmu baru hingga ia menguasai dengan baik cabang ilmu sebelumnya. Satu cabang ilmu umumnya menjadi pengatur dan penuntun bagi cabang ilmu lainnya. Kedelapan Mengetahui sebab-sebab suatu ilmu mulia dikenal. Suatu ilmu yang mulia dapat dikenali dari dua hal yaitu kemuliaan hasilnya dan Kekuatan prinsip-prinsipnya. Sebagai contoh pada ilmu agama dan ilmu kedokteran. Hasil dari agama adalah untuk mendapatkan kehidupan yang kekal dan hasil dari ilmu kedokteran adalah memperoleh kehidupan sementara di dunia. Dari sini tampak jelas bahwa ilmu dengan hasil mengenal Allah, Rasul-Nya, malaikat-Nya, kitab-Nya adalah ilmu yang paling mulia, demikian pula dengan cabang-cabang ilmu penunjangnya. Kesembilan Mempercantik hati dan tindakan dengan kebajikan, menggapai kedekatan dengan Allah SWT dan malaikat-Nya serta bersahabat dengan orang yang dekat dengan Allah SWT. Derajat tertinggi iman seseorang dimiliki oleh para Nabi, kemudian para Wali, lalu para Alim Ulama yang mendalam ilmunya, dan terakhir orang-orang saleh yang mengikutinya. Kesepuluh Memusatkan perhatian pada tujuan utama ilmu. Dunia dan seisinya beserta tubuh ini sudah selayaknya dijadikan kendaraan’ untuk menggapai tujuan utama ilmu yang kita pelajari kelak, yaitu Allah SWT dan tidak ada apapun selain Allah SWT. KEWAJIBAN SEORANG GURU Seseorang yang dikaruniai ilmu yang mendalam, dicerminkan dengan tindakan yang mulia dan mengajarkannya kepada orang lain dipandang lebih mulia daripada para malaikat langit dan bumi. Mereka ini diibaratkan seperti matahari yang menyinari diri sendiri dan memberikan sinarnya kepada alam semesta. Manusia seperti ini laksana kesturi, ia sendiri berbau harum namun juga menebarkan keharumannya kepada orang lain. Orang seperti inilah yang layak dijadikan Guru. Pertama Memperlihatkan kebaikan, simpati dan bahkan empati kepada para muridnya dan memperlakukan mereka seperti anaknya sendiri. Seorang Guru adalah sebab dari kehidupan kekal kelak. Karena ajaran para Guru inilah murid akan mengetahui dan ingat akan kehidupan akhirat. Seorang Guru dinilai akan membinasakan diri dan juga muridnya apabila ia mengajar demi dunia ini. Guru yang berorientasi akhirat tidak akan punya rasa benci, iri dan dengki terhadap muridnya dan siapapun juga. Kedua Mengikuti teladan yang dicontohkan Rasulullah SAW. Ia tidak boleh mencari imbalan dan dan upah di dalam mengajar selain mendekatkan diri kepada Allah dan mentauladani apa yang dilakukan Rasulullah SAW. Ketiga Tidak boleh menyembunyikan nasihat atau ajaran untuk diberikan kepada murid-muridnya. Setelah selesai menyampaikan ilmu-ilmu lahiriyah, seorang Guru haruslah menyampaikan ilmu-ilmu batiniah bahwa tujuan Pendidikan adalah mendekat kepada Allah SWT, bukan mengejar kekuasaan atau kekayaan. Keempat Mencegah murid-muridnya dari memiliki watak dan perilaku jahat dengan penuh kehati-hatian dan dengan cara sindiran, dengan cara simpati bukan keras dan kasar. Kelima Tidak boleh merendahkan ilmu lain dan Guru lain dihadapan para muridnya. Seharusnya Guru suatu ilmu tertentu menyiapkan murid-muridnya untuk belajar lanjutan ilmu-ilmu lainnya dan seterusnya, sehingga tidak punya waktu untuk menceritakan hal yang tercela terkait ilmu lain dan Guru lain. Keenam Mengajarkan murid-muridnya hingga batas kemampuan pemahaman mereka. Apa yang diketahui seorang Guru tidak mesti semuanya disampaikan kepada murid-muridnya sekaligus. Kebijaksanaan lebih bernilai daripada permata sekalipun. Ada peringatan bahwa lebih baik menjaga ilmu dari orang-orang yang bisa menjadi hancur karena memilikinya. Memberikan sesuatu kepada orang yang tidak berhak atas suatu ilmu sama atau tidak memberikannya kepada orang yang berhak adalah sama-sama zalim. Ketujuh Mengajarkan kepada para murid yang terbelakang hanya sesuatu yang jelas dan sesuai dengan tingkat pemahamannya yang terbatas tersebut. Orang acapkali mengira bahwa kebijaksanaan, ilmu dan tindakannya sempurna. Orang terbodoh adalah orang yang merasa puas dengan diri dan pengetahuannya serta menganggap bahwa akalnya sempurna. Kedelapan Guru haruslah mempraktekkan apa yang diajarkan dan tidak boleh berbohong dengan apa yang disampaikannya. Guru dapat diibaratkan seperti tongkat dan murid adalah bayangan dari tongkat tersebut. Bagaimana mungkin bayangan sebatang tongkat bisa lurus apabila tongkat itu sendiri bengkok? اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ Klik disini apabila ingin memiliki kitabnya
Bab Kelima Adab Aturan Guru dan Murid “Mengenai adab aturan yang semestinya dijalankan oleh seorang guru dan juga muridnya.”Adab Seorang MuridAdab atau aturan bagi seorang murid terdiri dari sepuluh jenis. Kewajiban pertama atas adab seorang murid adalah, tetap menjaga diri dari kebiasaan yang merendahkan akhlak serta perilaku tercela lainnya. Usaha untuk memperoleh ilmu dan pengetahuan lainnya adalah melalui amalan jiwa. Yaitu, mengutamakan kesucian jiwa dari akhlak yang tercela. Adapun ilmu membersihkan kotoran jiwa yang tersembunyi mampu menuntun murid kepada Sang Maha Pencipta, Seperti shalat, kewajiban ini dikerjakan oleh organ lahiriah – demikian pula dengan ibadah jiwa lainnya – di mana sumber untuk memperoleh ilmu tersebut tidak dapat dicapai tanpa menyingkirkan kebiasaan-kebiasaan buruk dan sifat-sifat tercela yang mengitarinya. Dalam hal ini, Rasulullah pernah mengingatkan melalui sabdanyaبُنِيَ الدِّيْنُ عَلَى النِّظَافَةِ“Agama ini ditegakkan atas kesucian.” 1841.Oleh karena itu, kesucian lahir maupun batin sungguh sangat dibutuhkan oleh siapa saja yang menguku dirinya Mu’min. Sebagaimana Allah berfirmanإِنَّمَا الْمُشْرِكُوْنَ نَجَسٌ.“Sesungguhnya orang-orang yang menyekutukan Allah musyrik itu najis tidak suci.” at-Taubah [9] 28.Dari sini dapat kita pahami, bahwa suci dari najis bukan hanya secara lahiriah saja harus kita perhatikan. Sebab, orang-orang musyrik juga menjaga pakaian dan kondisi fisik mereka agar tetap terlihat bersih. Namun, disebabkan jiwa mereka yang terlanjur kotor, maka seluruh fisik mereka dianggap najis kotor pula. Dalam aturan Islam, kebersihan batin menduduki posisi yang jauh lebih penting ketimbang kebersihan lahir. Oleh karena itu, Rasulullah pernah bersabdaلَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بِيْتًا فِيْهِ كَلْبٌ.“Malaikat – rahmah, kasih sayang – tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya memelihara anjing.” 1852.Jiwa ibarat rumah, tempat tinggal bagi para malaikat, dan sekaligus tempat mereka bergerak memantau perilaku manusia. Sifat-sifat tercela seperti marah, nafsu, dendam, dengki, takabur, ujub dan sebagainya digambarkan seperti najis pada anjing. Jika najis bersemayam dalam jiwa seseorang, maka adakah lagi tempat bagi para malaikat itu? Allah menuangkan rahasia ilmu ke dalam jiwa manusia melalui para malaikat yang bertugas menjaganya. Dan, para malaikat itu tidak akan menanamkan rahasia ilmu kecuali ke dalam jiwa yang bersih, sanubari nan suci. Sebagaimana Allah telah berfirmanوَ مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُوْلًا فَيُوْحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ.“Dan tidak mungkin bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dirinya kecuali dengan perantaraan wahyu, atau di belakang tabir, 1863 atau dengan mengutus seorang utusan malaikat, lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki.” asy-Syūrā [42] 51Wujud lahir dalam pandangan dunia ini mengalahkan makna batin yang tersembunyi. Sedangkan di akhirat kelak adalah sebaliknya, makna batinlah yang lebih berkuasa ketimbang aktivitas lahir ketika di alam dunia. Oleh karena itu, masing-masing hamba akan dibangkitkan sesuai dengan wujud yang sesungguhnya. Sebagaimana dikatakan dalam sebuah riwayat “Manusia yang gemar melucuti kehormatan orang lain, maka di alam akhirat kelak ia akan dibangkitkan menyerupai seekor anjing yang menyalak. Sedangkan manusia yang ketika hidup di alam dunia suka mengambil harta milik orang lain melalui cara-cara yang tidak dibenarkan, maka kelak di alam akhirat akan dibangkitkan seperti seekor srigala yang sangat buas. Adapun bagi manusia yang ketika hidup di alam dunia suka menyombongkan diri di hadapan manusia lain, niscaya pada Hari Berbangkit nanti akan dihidupkan kembali seperti seekor harimau yang ganas. Dan, bagi siapa saja yang pada saat berada di alam dunia menghalalkan segala cara demi pangkat maupun jabatan, maka di alam akhirat kelak akan dibangkitkan seperti seekor singa yang mengaum-aum menanti mangsanya.” 1874.Ibnu Masud berkata “Ilmu batin tidak mungkin diraih hanya dengan melalui cara banyak mempelajarinya. Ilmu batin jiwa adalah cahaya Allah yang sengaja dipancarkan ke dalam dada manusia. Oleh karena itu, ilmu seseorang tidak dapat diukur dari banyaknya ia meriwayatkan hadis. Akan tetapi, sesungguhnya ilmu itu lebih merupakan cahaya yang terpancar dari relung qalbu pemiliknya.”Sebagian dari para pencari penempuh jalan kebenaran mengatakan “Kami pernah menuntut ilmu bukan dengan niatan karena Allah hingga ilmu itu menolak kami pelajari terasa berat, hingga kami tidak bisa menemukan hakikat yang terkandung di dalamnya. Dan yang kami dapatkan hanya sekedar cerita serta berbagai bentuk ungkapan semata.” Seorang ahli hikmah berkata “Ilmu adalah cerminan dari sikap takwa seorang hamba kepada Allah Sebab, Allah sendiri telah berfirman di dalam al-Qur’anإِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ.“Sesungguhnya yang paling takut bertakwa kepada Allah di antara hamba-hambaKu adalah para ulama.” Fāthir [35] 28.Kewajiban kedua atas adab seorang murid adalah, mengurangi keterpautannya kepada urusan duniawi dan berusaha mencari tempat yang berbeda dari lingkungan keluarga serta kerabat dekatnya. Sebab, ilmu tidak mungkin diperoleh di lingkungan yang kurang atau tidak kondusif. Dan, hendaknya mengurangi berbagai ketergantungan yang ada pada qalbu, serta sebisa mungkin berhijrah, supaya qalbu bisa terfokus pada ilmu. Karena alasan itu, Allah berfirmanمَا جَعَلَ اللهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِيْ جَوْفِهِ.“Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua jiwa dalam rongga dadanya.” al-Aḥzāb [33] 4.Dan, disebabkan alasan itu pula seorang ahli hikmah pernah berkata “Seluruh bagian ilmu tidak akan diberikan kepada kalian, sampai kalian mampu menundukkan seluruh jiwa kalian secara utuh kepadanya mengabdi untuk ilmu. Dengan kata lain, bahwa ilmu tidak akan memberimu walau sebagiannya saja, sampai engkau memberikan dirimu utuh kepadanya.”Kewajiban ketiga atas adab seorang murid adalah, bersikap tawadhu atau tidak meninggikan diri di hadapan gurunya. Seorang murid seharusnya mempercayakan segala urusan keilmuannya kepada sang guru, dan tunduk kepada segala aturan yang telah diberikan, seperti pasien yang patuh kepada nasihat dokter pribadinya jika ingin segera sembuh dari sakit yang tengah meriwayatkan sebuah kisah “Suatu ketika Zaid bin Tsabit melaksanakan shalat jenazah. Setelah selesai melaksanakan shalat tersebut, segera Ibnu Abbas mendekatkan tali kekang pada bighal 1885 miliknya untuk dikendarai. Menyaksikan sikap Ibnu Abbas, Zaid pun berkata “Tidak usah wahai anak paman Rasulullah.” Ibnu Abbas pun menyahut “Beginilah cara yang diperintahkan kepada kami untuk menghormati para ulama dan orang-orang mulia.” Mendapati ucapan itu, Zaid bin Tsabit pun segera memegang dan mencium telapak tangan Ibnu Abbas sambil mengatakan “Seperti inilah aturan adab yang diperintahkan kepada kami oleh Rasulullah untuk memperlakukan keluarga dekat beliau.” 1896.Sebagaimana Rasulullah juga pernah bersabdaلَيْسَ مِنْ أَخْلَاقِ الْمُؤْمِنِ التَّمَلُّقُ إِلَّا فِيْ طَلَبِ الْعِلْمِ.“Bukan merupakan kebiasaan adab seorang Mu’min dengan merendahkan diri di hadapan orang lain; kecuali pada saat sedang menuntut ilmu belajar.” 1907.Ilmu dan hikmah merupakan harta milik kaum Mu’min yang hilang. Oleh karena itu, setiap kita harus bisa menemukannya di mana saja kita bisa meraihnya. Dan, ucapkan terima kasih kepada siapa saja yang sudi membawakannya ke hadapan kita. Dikatakan dalam sebuah syair“Ilmu dan hikmah sama artinya dengan perjuangan,Yang dilakukan oleh pemuda berkeinginan air bah banjir yang tengah berjuang,Menemukan tempat menuju hilir.” Penyair lainnya mengatakan“Ilmu itu enggan menyambut pemuda yang sombong,Laksana banjir yang malas mencapai tempat yang tinggi.” Ilmu tidak akan dapat diraih kecuali dengan kesederhanaan dan kerendahan jiwa pencarinya. Sebagaimana Allah telah berfirmanإِنَّ فِيْ ذلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَ هُوَ شَهِيْدٌ.“Sesungguhnya hal demikian itu menjadi peringatan bagi siapa yang mempunyai qalbu atau mau menggunakan pendengarannya, sementara ia menjadi saksi.” Qāf [50] 37.Makna “mempunyai qalbu” adalah jiwa yang mantap dalam menerima ilmu dan qalbu yang siap untuk memahami ilmu. Apa saja yang disampaikan dan dianjurkan oleh guru, maka murid harus mengikutinya, dan mengesampingkan pendapatnya sendiri. Para murid hanya boleh bertanya perihal perkara yang diizinkan oleh gurunya; pada saat proses belajar mengajar tengah dilaksanakan. Dalam hal ini, ada contoh yang telah dikisahkan oleh Allah dalam al-Qur’an, yaitu kisah tentang Nabi Musa dan Nabi Khidhir Nabi Khidhir berkata kepada Nabi Musaإِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيْعَ مَعِيَ صَبْرًا. وَ كَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا.“Sesungguhnya engkau sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana engkau dapat sabar atas sesuatu, yang engkau sendiri belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” al-Kahfi [18] 67-68.Setelah itu, Nabi Khidhir memberikan satu persyaratan kepada Nabi Musa “Engkau tidak boleh bertanya tentang apa yang aku lakukan.” Sebagaimana disebutkan di dalam firman-Nya اتَّبَعْتَنِيْ فَلَا تَسْأَلْنِيْ عَنْ شَيْءٍ حَتِّى أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا.“Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri yang akan menerangkannya kepadamu.” al-Kahfi [18] 70.Namun, kemudian diungkap dalam al-Qur’an, pada penjelasan ayat berikutnya, bahwa persyaratan yang diajukan oleh Nabi Khidhir ternyata tidak dipatuhi oleh Nabi Musa. Sebab, Nabi Musa masih juga mengajukan pertanyaan kepada Nabi Khidhir. Dan, karena itu pula Nabi Khidhir memutuskan untuk berpisah dengan Nabi ditanyakan, mengapa kita diperintahkan untuk bertanya manakala kita tidak mengetahui atas sesuatu, sebagaimana difirmankan oleh Allah sendiri dalam al-Qur’anفَسْأَلُوْا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ.“Maka bertanyalah kalian kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.” an-Nahl [16] 43.Jawaban yang dapat diberikan atas pertanyaan tersebut adalah, diperolehkan seorang murid bertanya kepada gurunya jika pertanyaan yang tersedia diperintahkan oleh sang guru yang mengajar untuk dipertanyakan. Sebab, semua itu berkaitan erat dengan sampainya murid atas materi bahasan yang tengah diajarkan, atau dikhawatirkan sang murid belum sampai pada materi bahasan yang diajukan pertanyaan atasnya. Dan, ini akan menjadikan kendala tersendiri dalam penyerapan pelajaran yang diberikan kepada keempat atas adab seorang murid adalah, mula-mula berusaha dengan segenap kemampuan yang dimiliki untuk tidak mencari-cari perselisihan di antara sesama manusia. Karena, hal itu dapat menimbulkan kegelisahan dan penderitaan bagi jiwa. Diawali jiwa akan cenderung pada semua yang masuk melalui pendengaran, terlebih hal-hal yang dapat menimbulkan rasa malas dan enggan untuk berbuat sesuatu. Oleh karena itu, bagi para penuntut ilmu yang masih berada pada barisan pemula, tidak dianjurkan mengikuti perbuatan orang-orang yang memiliki sifat pemalas. Sampai-sampai, ada ungkapan yang mengatakan “Siapa yang memperhatikan kami guru pada tingkat permulaan al-bidāyah, maka ia adalah teman di dalam mencari kebenaran. Dan, siapa yang memperhatikan kami hanya pada saat-saat terakhir saja an-nihāyah, maka ia laksana seorang zindiq dalam usaha menuntut ilmu serta kebenaran.”Sudah seharusnya seorang murid tidak terlalu memberikan perhatian pada perbedaan antara ilmu duniawi dan ilmu ukhrawi. Sebab, semua itu potensial mengotori jiwanya, dan ia bisa kehilangan gairah mempelajari ilmu. Jangan lupa, seorang murid harus senantiasa mengindahkan ucapan gurunya, dan tidak boleh mempermasalahkan berbagai madzhab atau sekte yang berkembang. Sebab, pada saat seseorang hanya mementingkan yang akhir saja ujung dari suatu amalan, niscaya anggota tubuh mereka terlatih untuk menjadi malas beraktivitas secara utuh, kecuali hanya melakukan hal-hal yang difardhukan saja. Mereka mengganti amalan-amalan sunah hanya dengan gerakan-gerakan qalbu, dan kesaksian yang cenderung melalaikan. Sedangkan murid yang lalai itu cenderung bermalas-malasan serta bersikap satu ungkapan yang menyatakan, bahwa tidak layak seorang tuna netra buta menjadi penunjuk jalan bagi para tuna netra lainnya. Demikianlah seharusnya adab seorang murid dalam bersikap. Murid tidak layak berperilaku seperti seorang guru. Oleh karena itu, diperbolehkan atas Nabi apa yang belum tentu diperbolehkan bagi umat beliau. Sebab, kekuatan sikap adil yang beliau miliki mendapatkan naungan dan bimbingan secara langsung dari sisi Allah seperti, izin atas diri Nabi menikahi istri lebih dari sembilan 1918 wanita.” 1929.Kewajiban kelima atas adab seorang murid adalah, seorang murid tidak boleh meninggalkan satu cabang ilmu pun. Ia harus berusaha menjadi ahli dalam berbagai cabang ilmu. Sebab, setiap cabang ilmu saling membantu dan sebagian cabang ilmu itu saling berhubungan erat. Jika seorang murid tidak mendapatkan sesuatu, maka acapkali sesuatu itu dimusuhinya. Dengan kata lain, setiap disiplin ilmu yang terpuji harus terus ditekuni, sampai terlihat dengan jelas tujuan atau hasilnya. Jika seseorang memiliki kesempatan yang memadai, maka ia dituntut untuk menyempurnakan di dalam mempelajarinya ilmu yang terpuji. Kalau tidak, maka ia pilih saja yang terpenting dari ilmu yang tersedia. Menjatuhkan pilihan pada yang paling penting itu dilakukan setelah mengamati keseluruhannya terlebih dahulu. Sebagaimana Allah berfirmanوَ إِذْ لَمْ يَهْتَدُوْا بِهِ فَسَيَقُوْلُوْنَ هذَا إِفْكٌ قَدِيْمٌ.“Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya, maka mereka akan berkata “Ini adalah dusta yang lama.”” al-Ahqāf [46] 11.Seorang penyair mengatakan“Makanan manis yang dimasukkan ke mulut seorang pasienAkan terasa hambar baginya seperti tanpa rasa.”Kecerdasan seseorang menentukan hasil perolehan ilmu yang baik. Ilmu yang baik menuntun manusia kepada Allah atau menolong manusia untuk menjalani dengan baik kehidupannya di dunia. Setiap cabang ilmu telah mendapatkan kedudukannya yang tetap. Siapa saja yang mengawal ilmu, ia dapat diibaratkan seperti petugas berpakaian dinas yang selalu berjaga di daerah terdepan perbatasan. Setiap orang mendapatkan derajat tertentu di dalam pencariannya, dan setiap orang mendapatkan balasan di akhirat sesuai dengan derajat yang didapatnya pada saat mencari ilmu. Satu-satunya syarat yang dibutuhkan, yaitu objek pencarian ilmu haruslah diridhai oleh Allah keenam atas adab seorang murid adalah, ia tidak boleh mempelajari atau mendalami beberapa atau semua cabang ilmu pada suatu waktu secara bersamaan. Ia harus mempelajari lebih dahulu ilmu yang terpenting bagi kehidupannya, karena hidup tidak cukup untuk menguasai semua cabang ilmu. Seorang murid harus memfokuskan perhatian terhadap ilmu yang paling penting di antara ilmu-ilmu yang ada; yakni ilmu mengenai urusan akhirat. Yang kami maksudkan di sini ialah, bagian muāmalah dan mukāsyafah. Sebab, muāmalah itu akan menuju kepada mukāsyafah. Sedangkan mukāsyafah ialah bentuk pengenalan kepada Allah melalui cahaya yang disematkan oleh-Nya pada qalbu yang bersih, akibat proses ibadah serta mujāhadah. 19310 Di mana, hal itu akan berujung pada tingkatan derajat keimanan seseorang. Seperti pada diri Abu Bakar ash-Shiddiq sebagaimana dinyatakan dalam sebuah riwayat “Seandainya keimanan penduduk bumi ini ditimbang dengan keimanan yang dimiliki oleh Abu Bakar ash-Shiddiq niscaya keimanan Abu Bakar masih lebih berat.” 19411.Hal itu lebih disebabkan adanya “rahasia” yang menetap di dalam jiwa Abu Bakar, bukan karena pengajuan bukti-bukti tentang jatidirinya atau berbagai argumentasi yang pernah ia sampaikan. Sangat mengherankan sikap seseorang yang telah mendengar sabda dari Rasulullah sebagaimana yang saya sebutkan di atas, namun ia justru cenderung untuk meremehkan ucapan “ala sufi” yang didengarnya. Ia bahkan menganggap, bahwa hal itu merupakan rangkaian kebatilan yang sengaja diembuskan oleh kalangan sufi. Berhati-hatilah dalam menyikapi masalah ini. Karena, hal tersebut dapat menyia-nyiakan sesuatu yang pokok utama dalam diri anda. Berusahalah dengan sekuat tenaga untuk memahami rahasia yang terkandung dalam ilmu para ahli fikih dan mutakallimun penyampai kebenaran lainnya. Dan jangan melakukannya, kecuali karena anda ingin mencari kebenaran bahwa sesungguhnya ilmu yang sangat mulia dan paling puncak itu adalah mengenal Allah Inilah samudera yang dasarnya sangat sulit untuk dijangkau. Yang karenanya, derajat manusia termulia terletak pada diri para nabi kemudian para wali, dan diceritakan mengenai dua orang bijak yang sama-sama rajin beribadah, di mana terlihat pada tangan salah seorang dari mereka memegang secarik kain yang bertuliskan “Jika engkau berbuat baik dalam segala hal, maka janganlah engkau mengira bahwa engkau telah berbuat baik terhadap segala sesuatu, sebelum engkau mengenal Allah dan meyakini Dia-lah yang membuat sebab serta yang mewujudkan segala sesuatu itu.”Sedangkan di tangan orang bijak lainnya juga memegang secarik kain yang bertuliskan “Sebelum aku mengenal Allah setelah meminum seteguk air aku merasakan haus kembali. Dan setelah mengenal-Nya, aku mampu merasakan kesegaran tanpa harus meminum apa pun.”Sedikit ilmu, jika itu didapat melalui semangat dan gairah, maka in sya’ Allah akan menyempurnakan ilmu ukhrawi. Tujuan kita dengan pengetahuan ini bukan agar kepercayaan itu diwariskan dari generasi ke generasi. Tujuan kita dengan pengetahuan ini adalah untuk mendapatkan cahaya yang memancar dari kepercayaan yang Allah tanamkan dalam jiwa kita. Jadi, ilmu yang tertinggi dan termulia adalah ilmu mengenal Allah, atau ma ketujuh atas adab seorang murid adalah, ia tidak boleh mendalami cabang ilmu baru, hingga ia menguasai dengan baik cabang ilmu sebelumnya. Sebab, biasanya itu merupakan persyaratan utama bagi pengetahuan yang baru tersebut. Satu cabang ilmu umumnya menjadi pengantar dan penuntun bagi cabang berfirmanالَّذِيْنَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُوْنَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ.“Orang-orang yang telah Kami Allah berikan al-Kitab al-Qur’an kepada mereka, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya.” al-Baqarah [2] 121.Seorang murid hendaknya menuntut ilmu untuk tujuan menghiasi batin dengan sifat-sifat yang dapat mengantarkan hamba ke hadirat Allah dan berada pada posisi para malaikat yang selalu bersanding di dekat-Nya. Jadi, bukan untuk memperoleh kekuasaan, harta dan kedudukan duniawi. Dengan kata lain, seorang murid tidak akan mempelajari secara mendalam satu ilmu, sebelum ia mampu menguasai ilmu pendahuluannya. Sebagaimana Imam Ali pernah berkata “Kalian tidak akan mampu memahami kebenaran, sampai kalian menjadi orang murid yang menguasai kebenaran.”Kewajiban kedelapan atas adab seorang murid adalah, mengetahui sebab-sebab mengapa ilmu itu disebut sesuatu yang sangat mulia. Suatu ilmu dapat dikenali dari dua sisi, kemuliaan buah atau hasilnya, dan keotentikan serta kekuatan prinsip yang dimilikinya. Sebagai contoh, ilmu agama dan ilmu kedokteran. Buah dari ilmu agama adalah mendapatkan kehidupan yang kekal. Sedangkan buah dari ilmu kedokteran adalah memperoleh kehidupan sementara status sosial di dunia. Dari sudut pandang ini, ilmu agama lebih mulia ketimbang ilmu kedokteran. Sebab, hasilnya jauh lebih mulia dan lebih kekal. Contoh lainnya adalah, ilmu matematika dan ilmu astrologi. Ilmu matematika lebih mulia disebabkan dasar-dasarnya yang lebih otentik, argumentatif, dan sini tampak jelas, bahwa ilmu dengan buah berupa mengenal Allah para malaikat-Nya, kitab-kitabNya, dan para Rasul-Nya merupakan ilmu yang sangat mulia. Demikian pula cabang-cabang dari ilmu kesembilan atas adab seorang murid adalah, mempercantik jiwa dan tindakan dengan kebajikan. Semua itu untuk tujuan menggapai kedekatan dengan Allah dan para malaikat-Nya, serta bersahabat dengan orang-orang yang dekat dengan Allah Tujuan hidup seorang murid seharusnya bukan untuk memperoleh kemilaunya urusan dunia, menumpuk harta dan kekayaan, berdebat dengan mereka yang jahil, serta memamerkan keangkuhan dan kesombongan. Seorang murid yang berusaha untuk memperoleh kedekatan dengan Allah seharusnya mencari ilmu yang dapat menolong dirinya mencapai tujuan dimaksud, yaitu ilmu tentang akhirat dan ilmu-ilmu yang menjadi penunjangnya. Sebagaimana Allah berfirmanيَرْفَعُ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَ الَّذِيْنَ أُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ.“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kalian, dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” al-Mujādilah [58] 11.Juga pada firman Allah دَرَجَاتٌ عِنْدَ اللهِ.“[Kedudukan] mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah.” Āli Imrān [3] 163.Dengan kata lain, derajat orang beriman itu bertingkat-tingkat dalam pandangan Allah Sebagian lebih rendah, dan sebagian lainnya lebih tinggi. Derajat tertinggi atas keimanan seorang hamba dimiliki oleh para Nabi, kemudian para wali, lalu para ulama yang mengamalkan ilmunya dalam kebenaran, dan kemudian orang-orang shalih yang mengikuti mereka para ulama yang mengamalkan ilmunya.Allah berfirmanفَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ. وَ مَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ.“Siapa saja yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya ia akan melihat balasannya. Dan siapa saja yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya ia akan melihat balasannya pula.” az-Zalzalah [99] 7-8.Jadi, seorang murid yang menuntut ilmu dengan tujuan mengharapkan kemuliaan diri dan sekaligus mengharapkan keridhaan Allah niscaya ilmu yang akan didapat akan berguna bagi kehidupannya di alam dunia, dan sekaligus meninggikan derajatnya dalam pandangan Allah kesepuluh atas adab seorang murid adalah, harus tetap memusatkan perhatian pada tujuan utama menuntut ilmu. Bukan demi kekuasaan dan wewenang semata. Di samping untuk tujuan menikmati anugerah kehidupan di alam dunia ini, yang terpenting di atas kesemuanya itu untuk tujuan kebahagiaan negeri akhirat yang lebih kekal dan abadi. Dunia adalah tempat tinggal kita yang sementara. Tubuh menjadi kendaraan menuju tujuan, sedangkan amal menjadi jalan menuju tujuan dimaksud, yaitu menggapai keridhaan Allah dan bukan selain Dia. Pada Allah-lah semua kenikmatan dan kebahagiaan bermuara. Karena itu, berikanlah perhatian yang lebih besar terhadap ilmu-ilmu yang mampu menuntun kita kepada tujuan akhir dari kehidupan karena itu, jenis ilmu terbagi menjadi tiga bagian. Pertama, ilmu yang dapat kita ibaratkan seperti membeli barang untuk bekal dalam perjalanan. Yang dimaksud dalam jenis ini antara lain, adalah; ilmu kedokteran, hukum fikih, dan ilmu-ilmu lain yang berkaitan dengan kesejahteraan manusia di alam dunia. Kedua, ilmu untuk menempuh perjalanan menghadapi rintangan yang sangat berat, sekaligus cara mengtasi rintangan-rintangan dan gangguan-gangguan di sekitarnya. Ilmu jenis ini mampu membersihkan jiwa pemiliknya dari perilaku jahat, dan sanggup membawanya ke tempat tertinggi yang tidak dapat dicapai manusia; kecuali mereka yang mendapatkan karunia dari sisi Allah Ketiga, ilmu dapat kita ibaratkan seperti ilmu mengenai perjalanan haji dengan semua syarat dan rukunnya. Yang dimaksudkan di sini adalah ilmu tentang Allah sifat-sifatNya, dan ilmu tentang para malaikat-Nya. Ilmu ini mustahil diraih, kecuali oleh orang-orang arif yang dekat dengan Allah Sementara mereka yang berderajat lebih rendah dari mereka pun akan memperoleh keselamatan. Sebagaimana Allah berfirmanفَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِيْنَ. فَرَوْحٌ وَ رَيْحَانٌ وَ جَنَّةُ نَعِيْمٍ. وَ أَمَّا إِنْ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِيْنِ فَسَلَامٌ لَكَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِيْنِ.“Adapun jika ia orang yang mati termasuk orang-orang yang didekatkan – kepada Allah – , maka ia memperoleh ketenteraman dan rezeki, serta surga kenikmatan. Dan adapun jika ia termasuk golongan kanan, maka keselamatanlah bagimu, karena engkau dari golongan kanan.” al-Wāqiah [56] 88-91.Inilah kebenaran pasti yang mereka pahami dan rasakan melalui perenungan, kontemplasi, musyāhadah penyaksian. Penglihatan yang ada di dalam musyāhadah jauh lebih jelas daripada penglihatan dengan mata lahiriah. Keyakinan mereka tentu lebih kuat setelah mereka menyaksikan sendiri. Sementara kebanyakan orang, beriman akan tetapi tanpa musyāhadah, dan tanpa melihat dengan mata batin mereka yang saya maksudkan di sini bukanlah fisik jantung yang terbuat dari daging, akan tetapi sesuatu yang mempunyai hakikat yang halus atau rahasia. Yaitu, sesuatu yang tidak dapat dipersepsi dengan indera tubuh. Ini adalah dzat spiritual yang langsung bersumber dari sisi Allah yang terkadang disebut dengan an-nafs jiwa, ruh, dan terkadang dinamai dengan qalbu jantung. Qalbu adalah wahana bagi hakikat spiritual untuk menyingkapkan selubung yang menyelimutinya. Sebab, jiwa rūh merupakan bagian dari ilmu yang bersifat wahyu mukāsyafah. Yakni, ilmu yang tidak mungkin dijangkau oleh akal manusia semata, dan tidak boleh diperbincangkan; apalagi diperkenankan adalah membicarakan bahwa jiwa rūh adalah permata yang sangat berharga, dan sekaligus termasuk dalam alam ruh, bukan alam materi. Sebagaimana Allah berfirmanوَ يَسْأَلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِ، قُلِ الرُّوْحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّيْ.“Dan, mereka bertanya kepadamu Muhammad tentang rūh. Katakanlah “Ruh itu termasuk urusan Rabbku.” al-Isrā’ [17] 85.Hubungan rūh manusia dengan Allah lebih mulia daripada hubungan rūh manusia dengan segenap anggota tubuhnya sendiri. Kepunyaan Allah segenap makhluk dan rūh. Akan tetapi, yang terakhir ini rūh berderajat lebih mulia dibandingkan ciptaan Allah lainnya. Rūh-lah yang paling berharga, karena dapat memikul amanat Allah Rūh manusia lebih mulia daripada langit dan bumi, berikut segala isinya. Karena, makhluk-makhluk lain tidak mau menerima amanat disebabkan takut pada rūh. Rūh manusia berasal langsung dari sisi Allah dan akan kembali kepada-Nya. Rūh adalah dzat spiritual yang mengendalikan tubuh manusia menuju Allah sebagai diperbarui 20 November pada 12 Agustus Dari 4029 4,782Kali.
A. LATAR BELAKANG MASALAH Dalam pandangan islam,orang yang paling bertanggung jawab dalam perkembangan anak adalah orang tua,anak adalah bagian aset orang tua yang terpenting yang harus dirawat dan dijaga islam juga memandang pendidikan memiliki pengaruh yang besar dalam mengembangkan dan mengubah diri itu, kewajiban terpenting bagi orang tua terhadap anaknya adalah pendidikan,hal ini melibatkan beragam usaha dalam pengertian bahwa seluruh sikap dan tingkah laku orang tua harus diarahkan untuk memberikan pendidikan kepada anak secara tepat dan anak adalah merupakan wujud dari sikap dan prilaku orang tua,namun bila orang tua tidak ada waktu dalam memberikan pendidikan kepada anaknya,maka wajiblah orang tua memasrahkan kapada orang lain untuk mendidik anaknya,dalam hal ini adalah guru. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa ada 3tiga komponen yang tidak dapat dipisahkan diantara pendidikan bagi anak,yaitu Murid, Guru, dan orang tua. Dikatakan bahwa guru adalah Abu al-ruh atau abu fi ad-din bagi murid. Sedangkan orang tua adalah Abu al jasad bagi murid itu sendiri. Artinya bila seorang murid hendak mendapatkan ilmu manfaat derajat kemuliaan diakhirat, maka hendaknya berbakti sepenuhnya kepada guru,dan bila hendak mendapatkan kelapangan rizki maka hendaknya berbaktilah sepenuhnya kepada orang tua.[1] Guru adalah wakil dari orang tua,yang telah memasrahkan kepadanya dan juga merupakan faktor terpenting atas berhasil dan tidaknya murid dalam menekuni pendidikannya,karenanya guru juga ikut bertanggung jawab dalam mengoptimalkan upaya perkembangan seluruh potensi murid,baik potensi kognitif,psikomotorik, maupun afektif. Sesuai dengan nilai-nilai islam. Sehingga selain sebagai pengajar, guru juga sebagai pendidik yang bertugas sebagai motivator dan fasilitator dalam proses belajar mengajar, sehingga seluruh potensi murid dapat teraktualisasikan secara baik dan dinamis.[2] Islam sangat menghormati dan menghargai orang-oramg yang mengemban amanat dalam nasyri ilmi,dalam hal ini adalah guru, karena guru harus mampu dan berusaha sekuat tenaga dalam mencapai keberhasilan anak didiknya yang beriman menurut ukuran-ukuran moral dan etis. Selain guru, murid juga merupakan faktor penting dalam dunia pendidikan, tanpa murid maka tidak akan terlaksana proses pendidikan. Banyak terjadi pada masa lalu,alur dari pengembaraan pencarian ilmu yang tidak dapat dirasakan apalagi diserap dan diamalkan, hanya karena tidak tahu jalan untuk mendapatkan ilmu tersebut dan salah satu jalan untuk mendapatkan sebuah ilmu adalah membina hubungan, terlebih dalam adap dan tata krama antara murid dan guru. Etika atau adap maupun tata krama adalah istilah yang sama, untuk dipahami dan diresapi juga diamalkan oleh murid terhadap gurunya dan guru terhadap muridnya, apalagi di era globalisasi ilmu pengetahuan dan tehnologi berkembang sangat cepat dan hal ini juga menimbulkan perubahan-perubahan yang sangat cepat pula, dimana banyak dampak negatif terhadap murid, yang dalam hal ini murid sudah berani meninggalkan etika terhadap gurunya. Satu contoh murid sudah berani menyamakan guru pada posisi temannya dan banyak murid yang meremehkan gurunya. Sebaliknya pada masa sekarang tidak sedikit guru yang memberika hukuman terhadap muridnya, berbuat tidak senonoh dan sebagainya, padahal bila guru kencing sambil berdiri, maka murid akan kencing sambil berlari dan yang perlu kita ingat bahwa guru harus dapat digugu dan ditiru.[3] Untuk itu seorang guru harus dapat melaksanakan wadzifahnya dengan baik, selain penguasaan bahan dan materi seorang guru harus dapat dibuat contoh dan suri tauladan anak didiknya. Atas dasar tersebut banyak ahli pikir salaf membahas tentang etika murid dan guru dalam mencapai kesuksesan pembelajaran. Salah satunya Hujjah Al-Islam Imam Ghozali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin. Dalam konteks ini, maka mencernati, memahami, dan mengevaluasi pemikiran al-Ghozali tentang adap murid dan guru adalah menarik untuk dibahas. B. PENEGASAN ISTILAH Agar dapat dipahami dengan baik dan tidak mengaburkan pembahasan, maka kiranya penulis berikan batasan dan penegasan istilah yang akan dipakai dalam skripsi tentang pemikiran Al-Ghozali tentang Adap Murid dan Guru Dalam Kitab Ihya’ Al-Ulumuddin juz I. 1. Al-Ghozali Al-Ghozali adalah salah satu ulama’ klasik yang hidup antara tahun 450-505 / 1058 – 1111 M. Beliau mempunyai nama lengkap Al-Imam Zainuddin Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad Bin Muhammad Al-Ghozali Ath-Thusi An-Naisaburi Al Faqih Ash-Shufi Asy-Syafi’ Al-Asy’ari.[4] 2. Adap Murid Dalam kamus bahasa Indonesia terbaru, Adab adalah kesopanan.[5] Sedangkan yang dimaksud adap murid disini adalah etika atau yang harus dimiliki oleh seorang murid atau siswa peserta didik yang menimba ilmu-ilmu agama atau yang belajar di lembaga-lembaga pendidikan islam. 3. Guru Dalam bahasa indonesia terbaru, guru adalah orang yang kerjanya mengajar.[6] Sdangkan yang dimaksud guru disini adalah orang yang mengajar ilmu-ilmu agama islam di lembaga-lembaga pendidikan islam. 4. Kitab Ihya’ Al-Ulumuddin Adalah salah satu kitab karya imam Al-Ghozali, yang menjelaskan beberapa hal , antara lain hal ibadah, adab mu’amalat, ilmu, munjiyat, hikmah, pendidiksn dan yang lainya secara lengkap.[7] Jadi yang penulis maksud dengan judul “konsepsi Al-Ghozali Tentang Adap Murid dan guru dalam kitab ihya’ ulumuddin juz I” adalah etika seorang guru dan murid dalam proses belajar keberhasilan suatu pembelajaran itu tergantung bagaimana membina hubungan antara guru dan murid, terlebih terhadap adap dan tata krama diantara keduanya, maka hal ini akan ditemukan gambaran secara utuh dan komprehensif tentang konsep dan pemikiran Al-Ghozali berkaitan dengan adap murid dan guru dalam proses belajar mengajar tersebut dalam kitab karangannya yaitu kitab ihya’ ulumuddin. C. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian diatas, maka pokok masalah yang mucul adalah sejauh mana hubungan murid dan guru hingga dapat menghasilkan ilmu yang dapat dirasakan dan dinikmati baik di dunia maupun di akhirat, juga oleh guru dalam mentransfer ilmu dapat diterima murid dengan baik ,hingga dapat mengamalkannya. Menurut Imam Ghozali, untuk mencapai jawaban atas pokok masalah tersebut, maka pertanyaan dibawah ini perlu diangkat sebagai sarana untuk menjawab pokok masalah tersebut, yaitu sebagai berikut 1. Bagaimana konsep adap murid menurutimam Al-Ghozali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin juz 1? 2. Bagaimana konsep adab guru menurut imam Al-Ghozali Ihya’ Ulumuddin Juz 1? 3. Apa relevansi konsep adap murid dan guru dalam pencapaian belajar mengajar dewasa ini di indonesia, terutama dalam nilai-nilai adab ? D. TUJUAN PENELITIAN Adapun yang menjadi tujuan penelitan dalam penyusunan skripsi ini adalah sebagai berikut 1. Untuk memahami konsep adap murid menrut Al-Ghozali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin juz 1. 2. Untuk memahami konsep adap guru menurut Al-Ghozali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin juz 1. 3. Untuk menemukan relevansi konsep adap murid dan guru menurut al-Ghozali dengan pendiikan adap di indonesia saat ini. E. MANFAAT PENELITIAN Adapun manfaat atau kegunaannya,anatara lain 1. Secara teoritik, dapat menyumbangkan khazanah intelektual islam khususnya dalam pendidikan islam 2. Secara praktis, dapat memberi wawasan dan pedoman bagi para peserta didik, baik murid maupun guru dalam rangka mencari pola hubungan yang ideal berbasis adab islami. F. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian adalah 1. Jenis dan pendekatan penelitian Jenis penelitian ini merupakan library research penelitian pustaka, yaitu suatu uasaha untuk memperoleh data atau informasi yang diperlukan serta menganalisis suatu permasalahan melalui sumber-sumber kepustakaan, penulis menggunakan study kepustakaan atau library research ini dimaksudkan untuk memperoleh dan menela’ah teori-teori yang berhubungan dengan topik dan sekaligus dijadikan sebagai landasan teori.[8] Sebagai penelitian yang bercorak analisis kritis terhadap pemikiran seorang tokoh, maka penelitian ini menggunakan pendekatan historis atau pendekatan sejarah, yaitu penyelidikan yang kritis terhadap keadaan-keadaan, perkembangan-perkembagan, serta pengalaman dimasa lampau dan menimbang secara cukup teliti dan hati-hati tentang bukti validitas dari sumber sejarah serta interpretasi dari sumber-sumber keterangan tersebut,[9] sehingga setting sosial intelektual dimana ia hidup dalam hal ini pemikiran Al-Ghozali tentang adap murid dan guru menjadi faktor penting dalam penelitian ini. 2. Sumber data Jenis penelitian ini adalah library research penelitian pustaka, maka data yang diperoleh dari bahan-bahan pustaka adalah berupa sumber data primer dan sumber data sekunder, yaitu sebagai berikut a. Sumber data primer data primer adalah data yang diperoleh langsung dari subjek penelitian dengan menggunakan alat pengambilan data langsung pada subjek informasi yang di cari.[10] sumber data primer dalam penelitian ini meliputi satu kitab yakni kitab ihya’ ulumuddin, juz awal, rubu’ pertama, bafian al-ilm,bab khomis, tentang adap murid dan guru, hal 43-52, karya Hujjah AL –islam Abu Hamid Al-Ghozali. b. Sumber data skunder data skunder adalah data yang di peroleh dari pihak lain, tidak langsung dari subjek penelitiannya, tetapi dapat mendukung atau berkaitan dengan tema yang diangkat.[11] Dalam penelitian ini data skundernya adalah antara lain Ta’limul mutallim karya Syeh Az-Zarnuji,Syarah Ta’limul Muta’alim karya Syeh Ibrahim Bin Ismail,Adabul Adim Wal Muta’allim karya Syeh Hasyim Asy’ari,Ad-Durroh Al-Mafakhiroh,Ithaf as-Sadah al –Muttaqin,Ayyuhal Walad al-Mhib karya Al-Ghozali,Tokoh-tokoh pendidikan islam di zaman jaya karya H. Nasruddin Thoha dan yang lainnya. 3. Tehnik pengumpulan data Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematik dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan, dalam hal ini akan selalu ada hubungan antara tehnik pengumpulan data dengan masalah penelitian yang ingin di data tak lain adalah suatu proses pengadaan data untuk keperluan penelitian. Adapun cara pengumpulan data dalam penelitian ini, penulis menggunakan tehnik dokumenter,tehnik dokumenter merupakan cara mengumpulkan data melalui peninggalan tertulis,seperti arsip-arsip,dalil atau hukum-hukum dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah penelitian,[12] yakni penulis mengumpulkan buku-buku yang yang ada hubungannya dengan pembahasan penulisan skripsi, dalam hal ini adalah kitab ihya’ ulumuddin juz I sebagai sumber utama,penelitian kepustakaan dengan menganalisa terhadapnya dan sumber lain yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan pembahasan, yaitu adab murid dan guru menurut pandangan Al-Ghozali dalam kitab ihya’ uluddin juz I. 4. Tekhnik Analisis Data Dalam analisis data, penulis menggunakan metode diskriptif analisis yaitu, suatu usaha untuk mengumpulkan data dan menyusun data kemudian diusahakan adanya analisis dan interpretasi atau penafsiran terhadap data tersebut.[13] Dalam hal ini dimaksudkan untuk membuka pesan yang terkandung dalam bahasa teks, terutama kitab ihya’ ulumuddin bagian bab adab al-alim wal mutaaliim. Selanjutnya untuk mengkaji relevansi konsep adap hubungan murid dan guru menurut Al-Ghozali dengan pendidikan moral dan etika di indonesia saat ini, dilakukan analisis komparasi atau perbandingan yaitu, membandingkan terhadap beberapa segi data lain, situasi lain, dan konsepsi filosofi lain.[14] Untuk membandingkan antara konsep etika tersebut dengan kondisi pendidikan di indonesia saat ini. Jepara,07 November 2011 peneliti [1] AL-Zarmuji,Ta’limul muta’allim Semarang, Usaha Keluarga [2] Piet A Sehertian,Ida A Sehertian,Supervisi pendidikan, Jakarta Rienika Cipta, 1992, hlm 39 [3] Abi Hamid al –Ghozali 2 , Ihya’ Ulumuddin, Mesir Maktabah Isa al-Baby, [4] Al-Ghozali 3, Al-durroh Al-Fakhiroh, Bairut Mu’asasah Al-kutub Al-Tsiqofiyah,1992, hlm 6 [5] Suharto,Drs, Tata Irianto, Kamus Besar Bahasa Ndonesia Terbaru ,Surabaya Indah, 1989, [7] Sayyid Muhammad bin Muhammad, Ithaf as-Sadah AL-muttaqin Bairut Dar L fikr , [8] Hadi,MA, Metodologi research I,Yogyakarta Andi Ofset,1997, cet 25, [9] A. Nevins,Master’s Essay in History, Colombia Unis. Press, New York,1993 [10] Saifuddin Azwar, Metodologi Penelitian Yogyakarta Pustaka Pelajar Ofifset, 2004, hlm. 91 [12] Drs. Margono, Metodelogi Penelitian Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta 2004 [13] Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar Metode Tehnik Bandung Transito, 1998, hlm. 139 [14] Anton Bekker, Achmad Charis Zubair, Metodologi Penelitian Filsafat, Kanisius, Yogyakarta, 1990. Hlm. 111